Nyanyian Sunyi Anak Laut

Diposkan oleh mahxode | 18:32:00 | | 0 komentar »

(By: Ihda Ihromi)




Malam itu tak ubahnya siang. Laut berkilauan disinari lampu-lampu besar. Begitu terdengar bunyi kapal merapat ke pelabuhan, maka teriakan penuh semangat berloncatan dari mulut-mulut bocah itu, mulai dari yang kecil umur tujuh tahunan sampai remaja umur belasan tahun. Mereka bersaing mengejar uang recehan yang dilemparkan beberapa penumpang di pinggiran laut. Tak terkecuali Adi, dengan tubuhnya yang kecil dan kurus dia berhasil meleset mendahului kawan-kawannya, memungut uang-uang logam itu dengan mulutnya. Ini kapal kesekian yang merapat di pelabuhan. Biasanya Adi dan teman-temannya menunggui kapal-kapal itu hingga larut malam, bahkan hingga pagi. Tak ada beda bagi mereka siang atau malam. Kehidupan mereka memang di laut. Kebahagiaan mereka adalah saat mendengar bunyi kapal-kapal merapat.


Di pinggiran laut itu, Adi terpaku sambil melemparkan pandangan kosongnya ke laut luas. Dia tak tahu kemana harus pulang, karena ia hidup sebatang kara kini, kecuali bersama adik perempuannya yang berumur enam tahun, satu tahun lebih muda darinya. Barangkali saudara satu-satunya itu kini telah meringkuk tidur di markas pengamen jalanan yang berada di kawasan pelabuhan Tanjung Perak, pelabuhan yang selalu dipenuhi sesak, di pinggiran kota Surabaya yang angkuh.

###

Gugusan-gugusan bintang itu menyapu malam, mengingatkan Adi akan seruan ayah. Bintang-bintang itu yang dahulu menemaninya, setiap kali menunggu kepulangan ayahnya yang mencari rezki di laut sebagai nelayan. Dia selalu merengek minta dibawa serta, tapi dengan senyum hangat ayahnya berkata

“Nak, kamu masih kecil. Perjalanan ayah sangat jauuuh sekali! Sejauh bintang-bintang di langit itu”

Adi menoleh bintang-bintang yang ditunjuk Ayahnya; memang sangat jauh. Sesekali ayah mengelus rambutnya setiap kali ingin pergi berlayar.

“Jaga ibumu saja ya nak! Jangan tunggu kepulangan ayah! Kelak jika kamu sudah besar kamu juga bisa bekerja seperti ayah”.

Adi mengangguk saja. Ia belum banyak memahami kehidupan ini. Ia hanya merasa sangat mencintai orang tua dan saudaranya. Hidupnya hanya bersama mimpi tentang kapal-kapal berlayar, berharap kelak ia dapat mengarungi samudera luas seperti ayahnya, akrab dengan laut dan bersahabat dengan ikan-ikan. Sesekali ia tertegun dipinggiran laut, menyaksikan bocah-bocah yang berlomba mendapatkan uang logam dari para penumpang kapal, dan ia sama sekali tidak pernah menduga bahwa ia akan menjadi bagian dari mereka seperti saat ini. Bintang-bintang itu menemani Adi dalam isaknya! seperti malam-malam sebelumnya. Sebenarnya ia tak pernah benar-benar gembira dengan uang-uang itu, karena jauh di lubuk hati ia masih sangat merindukan kepulangan sang ayah, yang barangkali takan pernah pulang. Konon ia dengar dari orang-orang, mungkin ayahnya sudah tewas di tengah laut, hilang ditelan ombak.

Remang-remang malam itu seolah menggambarkan kehidupan yang tenang dan damai. Padahal di sudut dunia sana, segala bentuk kekerasan dan hiruk pikuk manusia tak pernah berakhir. Satu kapal merapat lagi. Di dalamnya ada tawa orang terbahak-bahak. Di wajah penumpang-penumpang itu ada sinar kebahagiaan karena mereka telah sampai tujuan dan akan bertemu orang-orang terkasih. Dari ujung pelabuhan Adi dan beberapa kawannya yang masih tersisa menyaksikan itu dan bersiap-siap ingin menceburkan diri ke laut untuk berlomba memperoleh uang-uang logam. Namun tiba-tiba Adi mengurungkan niat itu. Kakinya tercekat oleh lara yang nestapa. Ia melihat ada seorang ibu separuh baya sedang merangkul erat anak kecil sebayanya, entah anaknya atau cucunya, membuatnya teringat akan senyum sang ibu, ibu yang tlah hilang ditelan penyakitnya enam hari yang lalu. Ya, Ibunya tewas mengerikan, di pondokan kecil tanpa ada yang menolong. Masih ingat di benaknya saat ia berjuang minta pertolongan orang-orang pinggiran kota untuk membawa ibunya ke dokter. Tapi yang ia dapatkan hanya raut-raut dingin, memandang dirinya yang lusuh dengan penuh jijik. Mereka sangka ia berdusta. Mereka kira ia mengarang cerita. Padahal ibunya yang tua itu benar-benar tak berdaya! tubuhnya menggigil kedinginan tanpa balutan selimut! darah terus mengalir dari mulutnya.

Adiknya Rani lah yang menyaksikan kepiluan itu dan mendengar detak jantung terakhir sang ibu. Sedangkan Adi, ketika mendatangi pondokannya yang kumuh hanya sempat menyaksikan senyum getir ibu yang tersisa dalam tidur panjangnya. Ibunya telah tiada! Adi memeluk Rani kecil yang menangis histeris. Digendonganya Rani kecil, satu-satunya permata hati, dibawanya pergi jauh entah kemana, tanpa alas kaki tanpa apapun jua. Sampai akhirnya ia menemukan para pengamen jalanan di sekitar pelabuhan, lantas tertidur lelap bersama mereka. Maka malam itu merupakan awal perjalanan hidup yang berat baginya, karena ia harus berjuang mengais rezeki di laut bersama anak-anak laut lainnya. Sejauh apapun uang recehan itu dilemparkan, mereka akan mengejarnya, berlomba mendapatkannya.

###

Adzan subuh berkumandang, pelabuhan itu tlah sepi, kecuali Adi yang masih memaku di bawah sinar rembulan. Ia ingin melupakan bintang-bintang itu! Ia ingin hapus kesedihan lalu, meski tak seorangpun memperdulikannya. Barangkali ayah memang takkan pernah kembali. Juga kenyataan bahwa ibupun telah pergi. Tapi ia merasa harus bertahan hidup, untuknya, juga untuk Rani kecil. Tidak ada waktu untuk bermimpi tentang masa depan yang indah, seragam sekolah, apalagi rumah mewah. Hari ini dan masa depan barangkali tidak ada beda bagi mereka. Sesekali ia merasa orang-orang tak adil kepadanya “kenapa tak ada yang sudi memungutku?”

Adi kecil berteriak sejadinya. Suaranya yang pilu memecah keheningan pagi. Ia tahu tak ada guna mengharapkan orang lain. Sambil berjalan menuju terminal pelabuhan, ia mencoba menghibur diri, merogoh saku baju yang dipenuhi uang-uang logam. Senyumnya mulai mengembang, karena seharian kemaren dia memperoleh uang lebih banyak dari sebelumnya. Lantas ia teringat keluhan Rani sebelum ia pergi. Katanya ia ingin dibelikan sandal jepit, sudah tiga hari ini dia mengamen dengan kaki terbuka; telapak kakinya jadi pecah-pecah dan perih. Adi segera menyempatkan diri singgah di pasar loak, mencari sandal bekas, harganya dua ribu. Ada sisa uang seribu lima ratus untuk sekedar mengisi perut. Kemudian tergopoh-gopoh ia menapaki jalanan yang dipenuhi dengan anak manusia. Sesekali ada yang memaki karena tak sengaja Adi menyenggolnya dengan keras. Adi tak peduli! Karena di benaknya kini hanya satu: membuat Rani tersenyum dengan sandal baru yang dibawakannya.

###

Matahari mulai menyapa orang-orang berperut buncit yang masih terlelap kekenyangan. Sebenarnya matahari itu marah pada kecongkakan manusia-manusia yang berkepala besar dan pemimpin-pemimpin yang zalim. Kota industri itu telah menyulap penghuninya menjadi budak-budak mesin, harta dan jabatan. Banyak para wanita dan anak kecil yang menjadi korban pembangunan yang tidak selaras dengan realitas sosial.

Adi si anak laut adalah satu di antara korban itu. Ia baru saja tiba di markas besar anak-anak jalanan, di sudut pelabuhan. Namun sepi; kardus kecil tempat yang biasa Rani tiduri sudah kosong. Yang ada hanya beberapa teman seperjuangannya.

“Adikku kemana?” tanyanya gagap.

“Katanya tadi mau nyusul kamu. Kamukan janji mau belikan dia sendal!” sahut salah seorang dari mereka pendek, lantas kembali asyik memperbaiki senar gitarnya.

Adi langsung meleset ke pelabuhan mencari adiknya Rani. Jantungnya berdegup kencang karena perasaan khawatir. Rani tidak mengenal daerah itu. Di sana banyak preman-preman jalanan. Ia terus berlari dan berlari sambil meneriaki nama Rani. Tiba-tiba langkah kakinya terhenti, dihenyakkan oleh suara bising kerumunan orang-orang di tikungan jalan besar. Ia segera mengejar suara itu. Benar saja, mereka sedang menyaksikan seorang bocah yang tergeletak bersimbah darah. Bocah itu adalah Rani!!! Adi berteriak histeris begitu melihat tubuh Rani yang terkulai tanpa daya. Sejurus kemudian dia memasuki kerumunan massa yang hanya bisa mendongak kasian tanpa berani mendekati, lantas meraih tubuh kecil Rani ke pelukannya. Air mata yang kesekian berjatuhan dari matanya yang redup.

“Rani!!!Rani!!! sadar dek! Kakak di sini”. Adi mengguncang-guncang tubuh Rani yang lemah. Namun Rani tak mampu berbicara sepatah katapun, kecuali hanya erangan kesakitan.

Darah segar terus mengucur dari kepala Rani. Sepuluh menit yang lalu sebuah mobil angkutan menabraknya. Rani kecil yang lemah memang tidak memperhatikan jalan, yang ada di benaknya hanya bagaimana menjumpai Adi untuk memintanya sesuap nasi sekedar mengisinya perutnya yang buncit. Entah di mana mobil itu kini. Rintihan Rani kecil semakin sumbang dan tak terdengar, kecuali bunyi jantungnya yang tinggal seumur. Lalu tubuhnya terkulai dipelukan Adi, matanya terpejam, tenggelam bersama mimpinya tentang sandal jepit, sekolah dan orang tua asuh. Permata hati Adi telah pergi. Rani telah menyusul kedua orang tuanya ke syurga. Rani tidak perlu lagi mengamen, tidak perlu lagi tidur di atas kardus-kardus bekas. Tidak perlu lagi diganggu preman-preman jalanan. Tidak perlu lagi merasakan ketidakadilan manusia lain padanya.

Tangis Adi semakin membahana. Kehilangan demi kehilangan dilaluinya tanpa daya. Kenangan buruk itu seolah berkelebat di kepalanya, menghadirkan trauma-trauma yang memilukan. Ia seperti menyaksikan sosok ayah yang melambaikan tangannya di tengah laut biru, wajah letih sang Ibu saat harus mengumpulkan barang-barang bekas untuk dijual di loakkan. Terngiang juga pesan terakhir Rani saat minta dibelikan sandal jepit. Dalam hati ia merutuk dirinya sendiri, kenapa terlalu lama meninggalkan Rani seorang diri. Bahkan ia merutuk nasib kenapa tidak nyawanya saja yang diambil. Adi masih sangat lugu. Tak ada yang mampu dia lakukan selain menangis. Ia tidak tahu bahwa Rani kecil telah bahagia bersama malaikat-malaikat syurga di sana.

Adi menggendong tubuh Rani kecil, membawanya pergi entah kemana. Perasaannya hampa tak bernama. Air matanya tak henti menganak sungai, sedangkan orang-orang yang tadinya mengerumuni mulai bubar satu persatu. Beberapa kendaraan pun masih lalu lalang seperi biasanya, seperti tidak terjadi apa-apa. Entah siapa yang peduli nasib Adi dan adiknya yang tak bernyawa pagi itu.


Anak Laut
Asrul Sani


Sekali ia pergi tiada bertopi
Ke pantai landasan matahari
Dan bermimpi tengah hari
Akan negeri di jauhan.

Pasir dan air seakan
bercampur awan
tiada menutup
mata dan hatinya rindu
melihat laut terbentang biru

"Sekali aku pergi
dengan perahu
ke negeri jauhan
dan menyanyi
kekasih hati
lagu merindukan
daku."

Tenggelam matahari
Ufuk sana tiada nyata
bayang-bayang bergerak perlahan
aku kembali kepadanya."

Sekali ia pergi tiada bertopi
Ke pantai landasan matahari
Dan bermimpi tengah hari
Akan negeri di jauhan.


0 komentar