Tentang Buku Yang Kupinjam

Diposkan oleh mahxode | 18:13:00 | | 1 komentar »

≈ Apakah Aku Harus Cemburu ? ≈


Ini Buku yang pertama dan yang beda dari buku-buku lain yang pernah kubaca. Seperti kebiasaanku jika membaca sebuah buku, yang pertama sekali kuperhatikan adalah sampul belakang buku yang biasanya mencakup seluruh isi buku, kemudian beralih ke daftar isi, untuk buku yang berisikan judul yang terpisah atau berbeda dari judul yang lain, aku biasanya akan mencari judul di daftar isi yang begitu menarik perhatianku.

“Nah ….. ini pasti seru”, pikirku dalam hati, aku tertarik pada judul tentang “Nyanyian Cinta” (hal 204 Buku Diatas Sajadah Cinta”), dengan memasang tampang muka serius aku mulai mencari hal 204 seperti yang tertera pada daftar isi, dan ketemu, tapi ada yang lain dari lembaran buku ini dan ini sangat menyita perhatianku.

Ada tulisan tangan disana yang berbeda dari catatan sebelumnya yang bila kuperhatikan memang buku ini ada banyak tulisan tangan. “Ya Allah”, Tapi ini sangat mempengaruhiku, bisa dikatakan mengenai hati. “Ya Allah”, apakah aku harus cemburu?, walaupun kenyataannya tulisan tangan itu bisa kuperkirakan bukanlah tulisan terbaru, melainkan tulisan tangan yang sudah lama,tapi begitu membekas dihatiku.

Pada saat pertama melihat dan membacanya, jantungku seperti berhenti untuk sementara waktu, dan aku berusaha menenangkan diri, karena ku tahu tulisan itu adalah ungkapan perasaan yang telah lama. …

Aku berharap itu memang ungkapan dari perasaan yang sudah dilupakan. “Ya Allah” apakah aku salah untuk cemburu?, ataukah dia tidak jujur kepadaku?, “Ya Allah aku mohon petunjukmu…”
≈ Bermula dari Perasaan yang Beda ≈


Aku mengenalnya dari pandangan yang pertama, dan tiba-tiba saja “Derrrr”, jantung berdesir dan berdegup kencang. “Ada apa ini”, pikirku, aku tidak pernah merasakan yang seperti dalam mengenal seorang wanita. Dia beda, dari itu aku ingin tahu lebih jauh tentangnya, dan kebetulan kami masih satu tempat kerjaan walaupun berbeda tempat.

Dari temannya yang kukenal dan masih satu kerjaan juga, sedikit demi sedikit aku mulai mengenalnya, tapi perasaan ini menyatakan kalau aku sudah lama mengenalnya, “benar-benar aneh perasaan ini”, pikirku. Tapi lama-kelamaan kok perasaan itu bertambah terus, sampai pada titik dimana aku tidak bisa lagi menahan perasaan ini.

Suatu hari pulang kerja aku melihatnya sedang jalan (berjauhan) dengan seorang cowok yang tidak kukenal memasuki sebuah mesjid diwaktu Maghrib. Aku sempat berpikiran mungkin itu cowoknya, disitu perasaanku kacau, “mungkin tidak akan pernah ada kesempatan”, pikirku. Dan pada hari-hari selanjutnya kuberanikan diri bercanda dengannya dengan menyinggung mengenai cowok yang bersamanya pada waktu itu, dan dia mengatakan kalau itu adalah sepupunya. “Wow…, mungkin kesempatan masih ada”, hatiku berkata kegirangan.

Dan sudah ada lebih kurang dua minggu perasaan ini kusimpan, akhirnya aku memberanikan diri untuk menyatakan perasaan suka aku kepadanya, dengan konsekwensi yang harus ku terima, ditolak mentah-mentah atau diterima dengan tulus,

hmmm…. Memang berat kalau untuk mengungkapkan perasaan apalagi dengan wanita yang benar-benar ditaksir habis-habisan. Namun bagaimanapun semuanya itu mesti kulewati sebagai proses untuk mencari jati diri. “Ya harus Gentle lah”, hatiku berbisik lirih.

Tapi diluar dugaanku, dia malah memberi jawaban yang bersimpangan alias menerima tidak, menolak juga tidak dan lebih cenderung lebih banyak tolakannya walaupun terdengar agak samar.

Namun aku tidak patah semangat, aku akan terus berjuang untuk cinta ini, sampai kutemukan jawaban yang pasti untukku, dan perasaanku ini. Dan secara tidak langsung perasaan ini telah mengubah pola hidupku selama ini, aku lebih banyak beribadah, ngaji, tahajjud dan aku menekankan dalam hati, perubahan ini adalah murni karena Allah bukan karena siapa-siapa, jika adapun faktor luar itu hanyalah sebagai jembatan menuju kebaikan. Dan diakhir sholat aku sempatkan untuk berdoa semoga diberikan pendamping hidup yang berakhlak mulia, solehah, dan menerimaku apa adanya, dan dia adalah yang kuinginkan menjadi istriku kelak.


≈ Ta’aruf adalah Jalanku ≈


Pada suatu hari dia memanggilku untuk datang ke tempat kerjanya sepulang dari kerja, dan mataku tidak lepas ingin selalu memandangnya, dan disana kami banyak bercerita, mulai dari aku dan kisah lamaku, sampai tentang sepupunya, yang dia katakan memang sedang dekat dengan sepupunya tersebut, oleh karena dikenalkan keluarganya sendiri kepadanya (bisa kutafsirkan seperti dijodohkan), namun lebih jauh katanya dalam menjalani hubungan mereka lebih banyak salah paham, dan dia meminta pendapatku mengenai hal ini. Dan pada waktu itu aku tidak tahu nama dari sepupunya tersebut.

Aku mencoba memberi penjelasan yang menurutku terbaik, dan mengenai pelaksanaannya kuserahkan kepadanya untuk berbuat. Dan dari hal ini aku merasa ada sedikit celah untukku lebih dekat dengannya. Karena bagaimanapun aku mencintainya.

Tidak disangka-sangka dia mengirim sms kepadaku, menanyakan mengenai keseriusanku kepadanya apakah benar atau tidak?. Karena dari awal aku memang suka sama dia dan sayang sama dia, aku menyatakan sejujurnya, kalau aku memang serius dengan segala apa yang kuucapkan kepadanya.

Dengan segala liku-liku untuk meyakinkannya akan keseriusanku, akhirnya dia mau menerimaku dengan jalan Ta’aruf., dengan saling menjaga keutuhan hubungan dan kepercayaan yang diberikan, aku siap menjalani ta’aruf ini bersamanya.

Sejujurnya aku sangat bersyukur atas semua ini, dia telah menerimaku dalam ta’aruf , dan berjanji untuk selalu menjaga hubungan ini dan saling percaya, saling mengingatkan, saling pengertian untuk mencegah segala kesalah pahaman.
Jujur belum pernah ada seorangpun yang membangunkan tidurku dan mengingatkan aku untuk sholat subuh, kecuali dia. Benar-benar anugerah terindah yang kurasakan. Aku tahu dia mungkin masih memiliki rasa keragu-raguan tentang aku, dari itu aku ingin berusaha meyakinkannya bahwa aku benar-benar meninginkan hubungan ini dan keinginanku untuk menjadikannya istriku, pendamping hidupku.

Amin ya robbal ‘alamin…


≈ Tentang Buku yang Kupinjam ≈


Hari itu aku dan dia janjian untuk bertukar buku bacaan, dia kupinjam buku fiqih yang kebetulan aku memang suka membaca buku-buku bernafaskan pelajaran keagamaan, disamping menambah wawasanku juga untuk mengetahui hukum atas segala sesuatu, dan dia meminjamkan kepadaku buku “Diatas Sajadah Cinta”, buku kumpulan cerita-cerita yang patut dijadikan tauladan dan pelajaran.

Ini Buku yang pertama dan yang beda dari buku-buku lain yang pernah kubaca. Seperti kebiasaanku jika membaca sebuah buku, yang pertama sekali kuperhatikan adalah sampul belakang buku yang biasanya mencakup seluruh isi buku, kemudian beralih ke daftar isi, untuk buku yang berisikan judul yang terpisah atau berbeda dari judul yang lain, aku biasanya akan mencari judul di daftar isi yang begitu menarik perhatianku.

“Nah ….. ini pasti seru”, pikirku dalam hati, aku tertarik pada judul tentang “Nyanyian Cinta” (hal 204 Buku Diatas Sajadah Cinta”), dengan memasang tampang muka serius aku mulai mencari hal 204 seperti yang tertera pada daftar isi, dan ketemu, tapi ada yang lain dari lembaran buku ini dan ini sangat menyita perhatianku.

Ada tulisan tangan disana yang berbeda dari catatan sebelumnya yang bila kuperhatikan memang buku ini ada banyak tulisan tangan. “Ya Allah”, Tapi ini sangat mempengaruhiku, bisa dikatakan mengenai hati. “Ya Allah”, apakah aku harus cemburu?, walaupun kenyataannya tulisan tangan itu bisa kuperkirakan bukanlah tulisan terbaru, melainkan tulisan tangan yang sudah lama,tapi begitu membekas dihatiku.

Pada saat pertama melihat dan membacanya, jantungku seperti berhenti untuk sementara waktu, dan aku berusaha menenangkan diri, karena ku tahu tulisan itu adalah ungkapan perasaan yang telah lama. …

Aku berharap itu memang ungkapan dari perasaan yang sudah dilupakan. “Ya Allah” apakah aku salah untuk cemburu?, mungkinkah dia tidak jujur kepadaku?, “Ya Allah aku mohon petunjukmu…”

Tentang buku yang kupinjam, begitu banyak memory yang tersimpan disana, belum pernah aku menjumpai seorang wanita yang begitu soleh, menyampaikan segala sesuatu hal hanya kepada Allah semata, berdialog dengan Tuhannya, atas segala sesuatu, juga menyangkut hati dan perasaannya kepada seseorang.

Tentang buku yang kupinjam, apakah aku juga memerlukan cahaya penerangan untuk hatiku yang dilanda resah, dikarenakan ungkapan perasaannya pada seseorang dilembar-demi lembar alinea buku, ada begitu banyak ungkapan perasaan disana, haruskah aku cemburu kepada yang berinitial ‘B’.

Tentang buku yang kupinjam, apakah aku butuh penjelasan darinya tentang perasaannnya kepadaku?, apakah aku ada dihatinya seperti seorang yang berinitial ‘B’ yang pernah ada dihatinya?, karena dari ungkapan perasaannya kepada seseorang itu tidak akan pernah tergantikan oleh siapapun juga.

“Ya Allah”, Jika Engkau menginginkanku untuk menikah dengannya, maka kuatkanlah hatiku, aku sayang kepadanya, jagalah hubungan kami ini dengan ridhomu, namun jika Engkau menunjukkan padaku bahwa hatinya ada untuk orang lain, cukuplah cinta-Mu yang menuntunku kejalan yang terbaik dan jalan yang Engkau ridhoi.

Amin ya robbal ‘alamin….

1 komentar

  1. SangMaha // 01 Juli, 2008 12:51  

    good